Tuesday, 1 November 2011

Munin Jamu saat Hamil


Jamu adalah sebutan untuk obat tradisional dari Indonesia. Belakangan populer dengan sebutan herba atau herbal. Jamu dibuat dari bahan-bahan alami, berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar-akaran), daun-daunan, kulit batang, dan buah. Ada juga menggunakan bahan dari tubuh hewan, seperti empedu kambing. Jamu biasanya terasa pahit sehingga perlu ditambah madu sebagai pemanis agar rasanya lebih dapat ditoleransi peminumnya. Di berbagai kota besar terdapat profesi penjual jamu gendong yang berkeliling menjajakan jamu sebagai minuman yang sehat dan menyegarkan. Selain itu jamu juga diproduksi di pabrik-pabrik jamu oleh perusahaan besar dan dijual di berbagai toko obat dalam kemasan sachet. Jamu seperti ini harus dilarutkan dalam air panas terlebih dahulu sebelum diminum. Pada perkembangan selanjutnya jamu juga dijual dalam bentuk tablet dan kapsul.
Jenis-jenis jamu yang beredar di masyarakat antara lain: jamu beras kencur, jamu kunir asam, jamu sinom, jamu cabe puyang, jamu pahitan, jamu kunci suruh, jamu kudu laos, jamu uyup-uyup/gepokan.
Minum jamu dipercaya orang dapat mmenyegarkan badan. Bagaimana dengan meminum jamu saat hamil? Siapa pun ingin proses kehamilannya berjalan normal, lancar, dan sehat. Tak heran kalau semua ibu hamil amat memperhatikan kondisi kehamilannya. Ada yang memilih cara konvensional (medis), tapi ada juga yang mengkombinasikannya dengan cara tradisional alias alternatif. Salah satu cara tradisional yang kerap dipilih adalah jamu. Apalagi kini terdapat jamu untuk ibu hamil yang dijual di pasaran.  Sayang, pengetahuan seputar jamu itu sendiri masih minim dan tak lengkap. Makanya, sebelum Anda mengkonsumsi jamu hamil, coba simaklah dahulu hasil penelitian berikut:
Jamu ‘Cabe Puyang’ yang biasa dikonsumsi ibu-ibu hamil di Jawa, misalnya, menurut Prof. Dr. Suwijoyo Pramono DEA., Apt., dekan Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada awal April lalu, ternyata malah menghambat kontraksi otot saat persalinan. Artinya, jamu yang mengandung cabe Jawa ini malah membuat ibu sulit melahirkan secara normal lantaran otot uterusnya tidak mampu berkontraksi secara normal. Prof. Dr. Suwijoyo menemukan, dalam cabe Jawa terdapat alkaloid piperin yang menimbulkan efek menghambat kontraksi otot uterus sehingga menyulitkan persalinan. Pakar farmasi ini malah menyarankan agar ibu-ibu hamil meminum jamu ini hanya saat ia hamil muda saja. Sebab, jamu ini bisa menekan risiko keguguran. Tapi, jika jamu ini diminum menjelang bersalin, salah besar!  Karena saat persalinan, otot uterus akan bekerja keras untuk membantu mengeluarkan bayi dari jalan lahir. 
Jamu lain yang kerap diminum para ibu hamil adalah jamu kunyit asam. Bila ‘Cabe Puyang’ menghambat kehamilan di usia lanjut, sebaliknya jamu ini berisiko di kehamilan muda. Ekstrak kunyit yang terkandung di dalamnya memiliki efek stimulan pada kontraksi uterus. Karenanya jika ia diminum saat ibu hamil muda, akan meningkatkan risiko keguguran.
Kalangan medis dengan tegas melarang pasiennya mengkonsumsi jamu-jamuan saat hamil, terutama pada awal kehamilan. Pada masa itulah—usia 1-16 pekan–proses pembentukan organ tubuh janin sedang terjadi. Jika ibu hamil meminum jamu yang ternyata salah satu senyawanya tergolong teratogen (mempengaruhi pembentukan fisik embrio) akan mengakibatkan cacat janin. Sebab, hingga kini masih diteliti zat apa saja pada jamu yang potensial menyebabkan janin menjadi cacat. Satu hal yang juga menjadi perhatian kalangan medis adalah kemungkinan mengendapnya material jamu pada air ketuban. Air ketuban yang ‘terkontaminasi’ dengan residu jamu membuat air ketuban menjadi keruh.  Ini tentu menyulitkan dokter memantau janin dan tentu saja mengganggu saluran nafas bayi pada saat persalinan kelak.
 Di luar masa kehamilan awal, boleh saja mengkonsumsi jamu asalkan memenuhi persyaratan higienis dan juga sesuaikan dosisnya. Untuk ibu hamil, tetap disertai pemeriksaan antenatal care pada ginekolognya. Kemudian untuk melihat apakah jamu tersebut aman, bisa diukur apakah badannya terasa fit dan bugar setelah meminum jamu tersebut. Jika sampai terjadi diare, berarti keseimbangannya terganggu di saluran cerna. Bila terjadi sesuatu yang tak normal seperti itu, segera hentikan. Entah itu berupa mual, keringat dingin, atau kulit merah-merah. Jadi, ibu harus tanggap terhadap reaksi itu. Tetapi ingat, sebaiknya ibu hamil tak sembarangan minum jamu. Jamu yang dibolehkan adalah yang berasal dari bahan tumbuhan yang tidak menggunakan obat sintetik. Juga harus diperhatikan kondisi ibu. Misalnya, bila ia punya maag tentu tak kuat dengan zat-zat pada jamu tersebut. Apalagi bila ada riwayat keguguran, pernah melahirkan anak cacat maupun prematur.
Komposisi jamu pada umumnya terdiri dari beberapa senyawa yang satu sama lain saling berinteraksi, mendukung, atau menetralisir. Itulah sebab, daya kerja jamu tidak secepat obat yang langsung ditujukan untuk mengobati penyakit. Penggunaan jamu justru tak mengundang ‘protes’ kalangan medis bila ia digunakan usai persalinan. Seperti dikatakan pakar jamu Jawa, Soedarmilah Soeparto, selama ini ramuan jamu Jawa sebenarnya lebih dikhususkan untuk menangani perawatan ibu paska persalinan. Jamu-jamuan yang sudah dikenal sejak masa keraton ini berguna untuk mengembalikan kesehatan, kebugaran, dan kecantikan seperti sebelum hamil. Apalagi menurut Soedarmilah, umumnya usai persalinan, wanita jadi kurang bergairah, pucat, sering mengeluh, pusing-pusing, mudah lelah, dan keputihan. Ada pula jamu yang berguna untuk merangsang terbentuknya ASI, sekaligus membantu mengeluarkan darah kotor usai bersalin dan mempercepat mengembalikan tenaga ibu.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment