Thursday, 2 February 2012

Perubagan dan Adaptasi Fisiologi Psikologi Ibu Hamil trimester 2

Perubahan Fisiologis

Pada usia kehamilan trimester II atau usia kehamilan sekitar 13 sampai 27 minggu perubahan fisiologis yang terjadi seperti di bawah ini :
a.       Perut yang semakin membesar
 seiring dengan berkembangnya ukuran dan berat rahim untuk menyediakan ruang bagi bakal janin, maka perut yang menyangganya juga menjadi tambah besar. Bertambahnya berbeda pada tiap wanita, setiap bulannya bertambah sekitar 2kg
b.      Badan sering lelah dan pening,
pembuluh darah  akan melebar sebagai akibat dari pengaruh hormon, sehingga jantung bekerja keras memompa darah lebih banyak untuk mengisinya. Apabila tubuh kurang fit, jantung yang bekerja tidak maksimal dan darah tidak mencukupi maka terjadilah rasa pening tersebut. Anjuran : hindari berdiri ataupun duduk yang terlalu lama, untuk beranjak dari duduk, lakukanlah dengan pelan saja untuk menghindari darah yang tidak sampai ke kepala
c.       Vulva dan Vagina
Vulva dan Vagina mengalami peningkatan vaskularisasi yang disebabkan oleh peningkatan hormon estrogen dan progesteron. Hal ini menyebabkan peningkatan sensitivitas yang dapat meningkatkan keinginan dan bangkitan  seksual. Peningkatan kongesti dan  ditambah relaksasi dinding  pembuluh darah fdan uterus yang berat dapat menimbulkan edema dan varises vulva.
d.      Serviks  Uteri
Serviks akan mengeluarkan sekresi lebih banyak.

e.       Uterus
Pada masa ini uterus mulai memasuki peritonium. Selama pembesaran, uterus berotasi ke kanan. Hal ini disebabkan adanya kolon rektosigmoid di sebelah kiri. Setelah bulan ke empat kehamilan, kontraksi uterus dapat dirasakan melalui dinding abdomen yang disebut dengan braxton Hicks. Yaitu kontraksi tidak teratur yang tidak menimbulkan nyeri, yang timbul setiap siklus menstruasi. Selain itu uterus juga mengalami pertambahan besar, perubahan berat, posisi dan posisi. Fundus menekan kandung kemih, menyebabkan wanita sering mengalami kencing.

f.       Ovarium dan plasenta
 Korpus luteum mulai mnghasilkan estrogen dan progesteron dan setelah plasenta terbentuk menjadi sumber utama kedua hormon. Plasenta membentuk steroid, human chorionic gonadotropin ( HCG ), Human Placenta Lactgogen ( HPL ) atau Human Chorionic Somatomammothropin ( HCS ), dan Human Chorionic Thyrotropin ( HCT ). Jadi pada masa ini plasenta mulai menggantikan fungsi korpus luteum.

g.      Payudara/ mammae
Terjadi perubahan – perubahan antara lain: adanya rasa kesemutan, danya nyeri tekan ,payudara membesar secara bertahap karena peningkatan pertumbuhan jaringan alveolar dan suplai darah ,puting susu lebih menonjol dan mengeras, areola tumbuh lebih gelap. Selain itu pada usia kehamilan 12 minggu ke atas puting susu mulai mengeluarkan cairan berwarna putih agak jernik bernama colostrum.

h.      Kulit
Stiae gravidarum ,yaitu tanda regangan yang dibentuk akibat serabut – serabut elastik dari lapisan kulit terdalam terpisah dan putus. Hal ini mengakibatkan pruritus atau rasa gatal


i.        Sistem Pencernaan
Saat kehamilan trimester II banyak keluhan keluhan yang dirasakan akibat perubahan anatomi dan fisiologi sistem pencernaan seperti
1.      Konstipasi yang disebbkan oleh hormon estrogen yang semakin meningkat
2.      Perut kembung yang disebabkan karena adnya tekanan uterusyang membesar dalam rongga perutyang mendesak organ – organ p[encernaan ke arah atas dan lateral.
3.      Wasir yang disebabkan oleh  konstipasi dan naiknya tekanan vena – vena di bawah uterus
4.      Panas perut (heart burn) yang terjadi akibat aliran balik asam gastrik ke dalam esophagus bagian bawah.

j.        Sistem Respirasi’
Wanita hamil sering mengaami  sesak nafas karena penurunan tekanan CO2.

k.      Sistem kardiovaskuler
Setelah 24 minggu tekanan darah sedikit demi sedikit naik kembali pada tekanan darah sebelum aterm. Terjadi peningkatan volume darah sekitar 30 % - 50% diatas tingkat biasanya karena adanya retensi garam dan air yang disebabkan sekresi aldosteron dari adrenal oleh esterogen. Peningkatan volume dam curah jantung juga menimbulkan perubahn hasil auskultasi. Bunyi spliting S1 dan S2 lebih jelas terdengar. S3 lebih jelas terdengar setelah minggu ke – 20 gestasi. Antar minggu ke 14 dan 20 denyut meningkat perlahan mencapaiu 10 sampaij 15 kali permenit kemudian menetap sampai aterm.  
l.        Sistem perkemihan
Vaskularisasi meningkat membuatvmukosa kandung kemih menjadi mudah luka dan berdarah.  Pembesaran kandung kemih menimbulkan rasa ingin berkemih walaupun kemih hanya berisi seikit utine.
m.    Sistem Muskuloskletal
Mobilitas sendi berkurang  terutama pada daerah siku dan pergelangan tangan,terjadi penambahan berat badan sehingga bahu lebih tertarik kebelakang dan tulang belakang lebih melengkung, sendi tulang belakang lebih lentur. Sehingga ibu hamil terlihat seperti penderita lordosis. Sering juga ibu hamil mengeluh mengalami Kram pada kaki yang terjadi akibat tekanan dari rahim pada pembuluh darah utama menuju kaki membuat darah mengalir kembali ke arah kaki, menyebabkan terjadinya kram. Untuk mengurangi keluhan urutlah bagian yang kram tadi atau berjalan bisa membuat lebih nyaman



Adaptasi psikologis
Kehamilan bukan saja menyebabkan perubahan secara fisiologi pada tubuh tetapi juga secara psikologis, pada trimester kedua ini, waktu dan pikiran lebih banyak tersita untuk memikirkan tempat, baju, nama bayi dan segala macam kebutuhan bayi dan segala hal yang berkaitan dengan bayi dan kelahiranyya kelak. Pada trimester ini umumnya wanita mulai merasa nyaman  dan baik. Tubuh ibu sudah terbiasa denagn kadar hormon yang lebih tinggi dan rasantidak nyaman karena hamil sudah berkurang.Ibu  telah menerima kehamilannya dan ia menggunakan pikiran dan energinya lebih konstruktif. Janin masih tetap kecil dan belum menyebabkan ketidaknyamanan dengan ukurannya.  Pada trimester ini ibu dapat merasakan gerakan bayi nya dan ibu muli merasakan kehadiran bayi nya sebagai seseorang diluar dari dirinya sendiri. Pada masa ini banyak ibu yang merasakan libido meningkat. Trimester ke II dibagi menjadi 2 fase yaitu prequickening yang ditandai dengan meningkatnya hubungan sosial dengan wanita hamil lainnya, aktivitas ibu hamil terfokus pada kehamilan, kelahiran, dan persiapan untuk peran yang baru. Lalu fase yang ke 2 yaitu quickening artinya “perasaan pertama adanya kehidupan” yang ditandai dengan wanita tersebut melakukan perubahan dan memusatkan perhatian ke bayi. Jenis kelamin bayi tidak begitu penting, perhatian ditujukan pada kesehatan bayi dan kehadiran di dalam keluarga.
Pada trimester ini kecemasan orang tua meningkat terutama mengenai kemungkinan cacat pada anaknya dan berusaha memperoleh kepastian bahwa anaknya dalam keadaan sempurna.

Pengaruh Kehamilan Pada Kehidupan Sosial
Pengaruh kehamilan pada kehidupan sehari-hari seorang wanita sangat bergantung pada dukungan sosialnya. Jika kehamilannya disertai dengan kesadaran bahwa bayi merupakan dambaan dirinya, suami, serta orang tuanya, maka lingkungan sosial ini sangat ideal. Tetapi tidak semua ibu hamil memiliki suasana yang ideal ini, ini semua tergantung pada lingkungan mereka masing-masing.
♣Karier
Prospek karier pada seorang wanita akan dibatasi dengan adanya kehamilan. Pengaruh kehamilan pada pekerjaan maupun sebaliknya sangat tergantung pada jenis pekerjaan dan orang-orang di tempat wanita itu bekerja. Meninggalkan pekerjaan saat hamil dapat membuat wanita hamil merasa kesepian, menganggap dirinya tidak berguna dan itu dapat menjadi masalah. Selain itu, wanita hamil dapat pula merasakan bahwa kini dia mempunyai banyak waktu untuk menyalurkan hobi, minta dan kegiatannya sampai bayi lahir nantinya.
♣Aspek Finansial
Aspek finansial dapat menjadi masalah yang sangat penting terutama jika kehamilan terjadi tanpa diduga. Misalnya, penghasilan suaminya tidak memadai dan dia terpaksa berhenti bekerja maka dia harus tinggal di daerah yang kumuh yang rentan penyakit, atau juga untuk menghemat pengeluaran wanita tersebut mungkin akan mengurangi makan makanan segar kaya protein dan kalsium yang dibutuhkannya.
♣Hubungan dengan Orang Lain
Hubungan dengan orang lain akan mengalami perubahan akibat kehamilan. Pasangan suami isteri tidak lagi bebas untuk mengikuti berbagai kegiatan sosial. Persiapan finansial dan fisik merupakan perhatian yang utama dan mungkin saja mereka masuk pada kelompok para orangtua yang baru saja memiliki anak dan membicarakan segala hal mengenai kelahiran anak. Perasaan cemburu bisa muncul dari keluarga yang iri hati terhadap kebahagiaan pasangan tersebut. Sebagian besar masalah yang timbul bisa diatasi, jika pasangan tersebut diberi kesempatan untuk beradaptasi dengan status mereka yang sudah berubah. Pada akhir kehamilan, pasangan tersebut akan merasakan bahwa sebenarnya mereka dikelilingi oleh orang0orang yang mendukung dan memperhatikan mereka.
♣ Ketakutan dan kecemasan
Wanita hamil dan suaminya mungkin mengalami ketakutan, kekhawatiran, dan berbagai reaksi emosional yang tidak dapat dibagi dengan keluarga ataupun sahabtnya. Mungkin mereka malu dianggap lemah ketika kehamilan dan kelahiran terjadi. Ini merupakan peritiwa yang normal dan banyak dialami.

             Reaksi Terhadap Perubahan Jasmani
Masalah-masalah dan ketidaknyamanan akan terjadi akibat perubahan fisiologis, namun pengaruhnya tidak sama bagi semua wanita. Perubahan fisiologis dan citra tubuh akan menimbulkan perubahan bentuk tubuh yang cepat dan nyata. Adanya rasa kekhawatiran kalau dirinya tidak lagi menarik bagi suaminya. Pada kebanyakan wanita perasaan suka dan tidak suka terhadap tubuh mereka dalam keadaan hamil bersifat sementara dan tidak menyebabkan perubahan permanen tentang diri mereka.

Sumber :
1.      Buku Perawatan Ibu hamil (Fitramaya)
2.      www. HamilSehat.com
http://catatanperawat.byethost15.com/asuhan-keperawatan/asuhan-keperawatan-kehamilan-trimester-ii/

Monday, 30 January 2012

Osteoporosis

1.      Definisi
Osteoporosis adalah penyakit metabolisme tulang yang cirinya adalah pengurangan massa tulang dan kemunduran mikroarsitektur tulang sehingga meningkatkan risiko fraktur oleh karena fragilitas tulang meningkat.

2.      Epidemiologi
Insiden osteoporosis lebih tinggi pada wanita dibandingkan laki-laki dan merupakan problem pada wanita pascamenopause. Osteoporosis di klinik menjadi penting karena problem fraktur tulang, baik fraktur yang disertai trauma yang jelas maupun fraktur yang terjadi tanpa disertai trauma yang jelas.
Penelitian Roeshadi di Jawa Timur, mendapatkan bahwa puncak massa tulang dicapai pada usia 30-34 tahun dan rata-rata kehilangan massa tulang pasca menopause adalah 1,4% per tahun. Penelitian yang dilakukan di klinik Reumatologi RSCM mendapatkan faktor resiko osteoporosis yang meliputi usia, lamanya menopause dan kadar estrogen yang rendah, sedangkan faktor proteksinya adalah kadar estrogen yang tinggi, riwayat barat badan lebih atau obesitas dan latihan yang teratur.

3.      Etiologi
Ada 2 penyebab utama osteoporosis, yaitu pembentukan massa puncak tulang yang kurang baik selama masa pertumbuhan dan meningkatnya pengurangan massa tulang setelah menopause. Massa tulang meningkat secara konstan dan mencapai puncak sampai usia 40 tahun, pada wanita lebih muda sekitar 30-35 tahun. Walaupun demikian tulang yang hidup tidak pernah beristirahat dan akan selalu mengadakan remodelling dan memperbaharui cadangan mineralnya sepanjang garis beban mekanik. Faktor pengatur formasi dan resorpsi tulang dilaksanakan melalui 2 proses yang selalu berada dalam keadaan seimbang dan disebut coupling. Proses coupling ini memungkinkan aktivitas formasi tulang sebanding dengan aktivitas resorpsi tulang. Proses ini berlangsung 12 minggu pada orang muda dan 16-20 minggu pada usia menengah atau lanjut. Remodelling rate adalah 2-10% massa skelet per tahun.
Proses remodelling ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor lokal yang menyebabkan terjadinya satu rangkaian kejadian pada konsep Activation – Resorption – Formation (ARF). Proses ini dipengaruhi oleh protein mitogenik yang berasal dari tulang yang merangsang preosteoblas supaya membelah membelah menjadi osteoblas akibat adanya aktivitas resorpsi oleh osteoklas. Faktor lain yang mempengaruhi proses remodelling adalah faktor hormonal. Proses remodelling akan ditingkatkan oleh hormon paratiroid, hormon pertumbuhan dan 1,25 (OH)2 vitamin D. Sedang yang menghambat proses remodelling adalah kalsitonin, estrogen dan glukokortikoid. Proses-proses yang mengganggu remodelling tulang inilah yang menyebabkan osteoporosis.
Selain gangguan pada proses remodelling tulang faktor lainnya adalah pengaturan metabolisme kalsium dan fosfat. Walaupun terdapat variasi asupan kalsium yang besar, tubuh tetap memelihara konsentrasi kalsium serum pada kadar yang tetap. Pengaturan homeostasis kalsium serum dikontrol oleh organ tulang, ginjal dan usus melalui pengaturan paratiroid hormon (PTH), hormon kalsitonin, kalsitriol (1,25(OH)2 vitamin D) dan penurunan fosfat serum. Faktor lain yang berperan adalah hormon tiroid, glukokortikoid dan insulin, vitamin C dan inhibitor mineralisasi tulang (pirofosfat dan pH darah). Pertukaran kalsium sebesar 1.000 mg/harinya antara tulang dan cairan ekstraseluler dapat bersifat kinetik melalui fase formasi dan resorpsi tulang yang lambat. Absorpsi kalsium dari gastrointestinal yang efisien tergantung pada asupan kalsium harian, status vitamin D dan umur. Didalam darah absorpsi tergantung kadar protein tubuh, yaitu albumin, karena 50% kalsium yang diserap oleh tubuh terikat oleh albumin, 40% dalam bentuk kompleks sitrat dan 10% terikat fosfat.

4.      Faktor Resiko Osteoporosis
a.       Usia
Tiap peningkatan 1 dekade, resiko meningkat 1,4-1,8
b.      Genetik
1)      Etnis (kaukasia dan oriental > kulit hitam dan polinesia)
2)      Seks (wanita > pria)
3)      Riwayat keluarga
c.       Lingkungan, dan lainnya
1)      Defisiensi kalsium
2)      Aktivitas fisik kurang
3)      Obat-obatan (kortikosteroid, anti konvulsan, heparin, siklosporin)
4)      Merokok, alkohol
5)      Resiko terjatuh yang meningkat (gangguan keseimbangan, licin, gangguan penglihatan)
6)      Hormonal dan penyakit kronik
a)         Defisiensi estrogen, androgen
b)        Tirotoksikosis, hiperparatiroidisme primer, hiperkortisolisme
c)         Penyakit kronik (sirosis hepatis, gangguan ginjal, gastrektomi)
d.      Sifat fisik tulang
1)      Densitas (massa)
2)      Ukuran dan geometri
3)      Mikroarsitektur
4)      Komposisi
Selain itu ada juga faktor resiko faktur panggul yaitu,:
a.       Penurunan respons protektif
Kelainan neuromuskular
Gangguan penglihatan
Gangguan keseimbangan
b.      Peningkatan fragilitas tulang
Densitas massa tulang rendah
Hiperparatiroidisme
c.       Gangguan penyediaan energi
Malabsorpsi

5.       Klasifikasi Osteoporosis
Dalam terapi hal yang perlu diperhatikan adalah mengenali klasifikasi osteoporosis dari penderita. Osteoporosis dibagi 2 , yaitu :
a.       Osteoporosis primer
Osteoporosis primer berhubungan dengan kelainan pada tulang, yang menyebabkan peningkatan proses resorpsi di tulang trabekula sehingga meningkatkan resiko fraktur vertebra dan Colles. Pada usia dekade awal pasca menopause, wanita lebih sering terkena daripada pria dengan perbandingan 6-8: 1 pada usia rata-rata 53-57 tahun.
b.      Osteoporosis sekunder
Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit atau sebab lain di luar tulang.
c.       Osteoporosis idiopatik
Osteoporosis idiopatik terjadi pada laki-laki yang lebih muda dan pemuda pra menopause dengan faktor etiologik yang tidak diketahui.

6.      Patogenesis
Pembentukan ulang tulang adalah suatu proses yang terus menerus. Pada osteoporosis, massa tulang berkurang, yang menunjukkan bahwa laju resorpsi tulang pasti melebihi laju pembentukan tulang. Pembentukan tulang lebih banyak terjadi pada korteks
Proses Remodelling Tulang dan Homeostasis Kalsium
Kerangka tubuh manusia merupakan struktur tulang yang terdiri dari substansi organik (30%) dan substansi mineral yang paling banyak terdiri dari kristal hidroksiapatit (95%) serta sejumlah mineral lainnya (5%) seperti Mg, Na, K, F, Cl, Sr dan Pb. Substansi organik terdiri dari sel tulang (2%) seperti osteoblas, osteosit dan osteoklas dan matriks tulang (98%) terdiri dari kolagen tipe I (95%) dan protein nonkolagen (5%) seperti osteokalsin, osteonektin, proteoglikan tulang, protein morfogenik tulang, proteolipid tulang dan fosfoprotein tulang.
Tanpa matriks tulang yang berfungsi sebagai perancah, proses mineralisasi tulang tidak mungkin dapat berlangsung. Matriks tulang merupakan makromolekul yang sangat bersifat anionik dan berperan penting dalam proses kalsifikasi dan fiksasi kristal hidroksi apatit pada serabut kolagen. Matriks tulang tersusun sepanjang garis dan beban mekanik sesuai dengan hukum Wolf, yaitu setiap perubahan fungsi tulang akan diikuti oleh perubahan tertentu yang menetap pada arsitektur internal dan penyesuaian eksternal sesuai dengan hukum matematika. Dengan kata lain, hukum Wolf dapat diartikan sebagai “bentuk akan selalu mengikuti fungsi”.
Patogenesis Osteoporosis primer
Setelah menopause maka resorpsi tulang akan meningkat, terutama pada dekade awal setelah menopause, sehingga insidens fraktur, terutama fraktur vertebra dan radius distal meningkat. Estrogen juga berperan menurunkan produksi berbagai sitokin oleh bone marrow stromal cells dan sel-sel mononuklear, seperti IL-1, IL-6 dan TNF-α yang berperan meningkatkan kerja osteoklas, dengan demikian penurunan kadar estrogen akibat menopause akan meningkatkan produksi berbagai sitokin tersebut sehingga aktivitas osteoklas meningkat.
Untuk mengatasi keseimbangan negatif kalsium akibat menopause, maka kadar PTH akan meningkat pada wanita menopause, sehingga osteoporosis akan semakin berat. Pada menopause, kadangkala didapatkan peningkatan kadar kalsium serum, dan hal ini disebabkan oleh menurunnya volume plasma, meningkatnya kadar albumin dan bikarbonat, sehingga meningkatkan kadar kalsium yang terikat albumin dan juga kadar kalsium dalam bentuk garam kompleks. Peningkatan bikarbonat pada menopause terjadi akibat penurunan rangsang respirasi, sehingga terjadi relatif asidosis respiratorik.
Patogenesis Osteoporosis Sekunder
Selama hidupnya seorang wanita akan kehilangan tulang spinalnya sebesar 42% dan kehilangan tulang femurnya sebesar 58%. Pada dekade ke-8 dan 9 kehidupannya, terjadi ketidakseimbangan remodeling tulang, dimana resorpsi tulang meningkat, sedangkan formasi tulang tidak berubah atau menurun. Hal ini akan menyebabkan kehilangan massa tulang, perubahan mikroarsitektur tulang dan peningkatan resiko fraktur.
Defisiensi kalsium dan vitamin D juga sering didapatkan pada orang tua. Hal ini disebabkan oleh asupan kalsium dan vitamin D yang kurang, anoreksia, malabsorpsi dan paparan sinar matahari yang rendah. Defisiensi vitamin K juga akan menyebabkan osteoporosis karena akan meningkatkan karboksilasi protein tulang misalnya osteokalsin. Penurunan kadar estradiol dibawah 40 pMol/L pada laki-laki akan menyebabkan osteoporosis, karena laki-laki tidak pernah mengalami menopause (penurunan kadar estrogen yang mendadak), maka kehilangan massa tulang yang besar seperti pada wanita tidak pernah terjadi. Dengan bertambahnya usia, kadar testosteron pada laki-laki akan menurun sedangkan kadar Sex Hormone Binding Globulin (SHBG) akan meningkat. Peningkatan SHBG akan meningkatkan pengikatan estrogen dan testosteron membentuk kompleks yang inaktif.
Faktor lain yang juga ikut berperan terhadap kehilangan massa tulang pada orang tua adalah faktor genetik dan lingkungan (merokok, alkohol, obat-obatan, imobilisasi lama). Resiko fraktur yang juga harus diperhatikan adalah resiko terjatuh yang lebih tinggi pada orang tua dibandingkan orang yang lebih muda. Hal ini berhubungan dengan penurunan kekuatan otot, gangguan keseimbangan dan stabilitas postural, gangguan penglihatan, lantai yang licin atau tidak rata, dll.
7.      Gambaran Klinis
Osteoporosis dapat berjalan lambat selama beberapa dekade, hal ini disebabkan karena osteoporosis tidak menyebabkan gejala fraktur tulang. Beberapa fraktur osteoporosis dapat terdeteksi hingga beberapa tahun kemudian. Tanda klinis utama dari osteoporosis adalah fraktur pada vertebra, pergelangan tangan, pinggul, humerus, dan tibia. Gejala yang paling lazim dari fraktur korpus vertebra adalah nyeri pada punggung dan deformitas pada tulang belakang. Nyeri biasanya terjadi akibat kolaps vertebra terutama pada daerah dorsal atau lumbal. Secara khas awalnya akut dan sering menyebar kesekitar pinggang hingga kedalam perut. Nyeri dapat meningkat walaupun dengan sedikit gerakan misalnya berbalik ditempat tidur. Istirahat ditempat tidaur dapat meringankan nyeri untuk sementara, tetapi akan berulang dengan jangka waktu yang bervariasi. Serangan nyeri akut juga dapat disertai oleh distensi perut dan ileus
Seorang dokter harus waspada terhadap kemungkinan osteoporosis bila didapatkan :
a.       Patah tulang akibat trauma yang ringan.
b.      Tubuh makin pendek, kifosis dorsal bertambah, nyeri tulang.
c.       Gangguan otot (kaku dan lemah)
d.      Secara kebetulan ditemukan gambaran radiologik yang khas.
8.      Diagnosis
Diagnosis osteoporosis umumnya secara klinis sulit dinilai, karena tidak ada rasa nyeri pada tulang saat osteoporosis terjadi walau osteoporosis lanjut. Khususnya pada wanita-wanita menopause dan pasca menopause, rasa nyeri di daerah tulang dan sendi dihubungkan dengan adanya nyeri akibat defisiensi estrogen. Masalah rasa nyeri jaringan lunak (wallaca tahun1981) yang menyatakan rasa nyeri timbul setelah bekerja, memakai baju, pekerjaan rumah tangga, taman dll. Jadi secara anamnesa mendiagnosis osteoporosis hanya dari tanda sekunder yang menunjang terjadinya osteoporosis seperti :
a.       Tinggi badan yang makin menurun.
b.      Obat-obatan yang diminum.
c.       Penyakit-penyakit yang diderita selama masa reproduksi, klimakterium.
d.      Jumlah kehamilan dan menyusui.
e.       Bagaimana keadaan haid selama masa reproduksi.
f.       Apakah sering beraktivitas di luar rumah , sering mendapat paparan matahari cukup.
g.      Apakah sering minum susu? Asupan kalsium lainnya.
h.      Apakah sering merokok, minum alkohol?

Pemeriksaan Fisik
Tinggi badan dan berat badan harus diukur pada setiap penderita osteoporosis. Demikian juga gaya berjalan penderita osteoporosis, deformitas tulang, nyeri spinal. Penderita dengan osteoporosis sering menunjukkan kifosis dorsal atau gibbus dan penurunan tinggi badan.

Pemeriksaan Radiologis
Gambaran radiologik yang khas pada osteoporosis adalah penipisan korteks dan daerah trabekuler yang lebih lusen. Hal ini akan tampak pada tulang-tulang vertebra yang memberikan gambaran picture-frame vertebra.

Pemeriksaan Densitas Massa tulang (Densitometri)
Densitas massa tulang berhubungan dengan kekuatan tulang dan resiko fraktur . untuk menilai hasil pemeriksaan Densitometri tulang, digunakan kriteria kelompok kerja WHO, yaitu:
a.       Normal bila densitas massa tulang di atas -1 SD rata-rata nilai densitas massa tulang orang dewasa muda (T-score)
b.      Osteopenia bila densitas massa tulang diantara -1 SD dan -2,5 SD dari T-score.
c.       Osteoporosis bila densitas massa tulang -2,5 SD T-score atau kurang.
d.      Osteoporosis berat yaitu osteoporosis yang disertai adanya fraktur.
9.       Penatalaksanaan
Terapi pada osteoporosis harus mempertimbangkan 2 hal, yaitu terapi pencegahan yang pada umumnya bertujuan untuk menghambat hilangnya massa tulang. Dengan cara yaitu memperhatikan faktor makanan, latihan fisik (senam pencegahan osteoporosis), pola hidup yang aktif dan paparan sinar ultra violet. Selain itu juga menghindari obat-obatan dan jenis makanan yang merupakan faktor resiko osteoporosis seperti alkohol, kafein, diuretika, sedatif, kortikosteroid.
Selain pencegahan, tujuan terapi osteoporosis adalah meningkatkan massa tulang dengan melakukan pemberian obat-obatan antara lain hormon pengganti (estrogen dan progesterone dosis rendah). Kalsitrol, kalsitonin, bifosfat, raloxifene, dan nutrisi seperti kalsium serta senam beban.
Pembedahan pada pasien osteoporosis dilakukan bila terjadi fraktur, terutama bila terjadi fraktur panggul.