Showing posts with label Menopause. Show all posts
Showing posts with label Menopause. Show all posts

Monday, 30 January 2012

Osteoporosis

1.      Definisi
Osteoporosis adalah penyakit metabolisme tulang yang cirinya adalah pengurangan massa tulang dan kemunduran mikroarsitektur tulang sehingga meningkatkan risiko fraktur oleh karena fragilitas tulang meningkat.

2.      Epidemiologi
Insiden osteoporosis lebih tinggi pada wanita dibandingkan laki-laki dan merupakan problem pada wanita pascamenopause. Osteoporosis di klinik menjadi penting karena problem fraktur tulang, baik fraktur yang disertai trauma yang jelas maupun fraktur yang terjadi tanpa disertai trauma yang jelas.
Penelitian Roeshadi di Jawa Timur, mendapatkan bahwa puncak massa tulang dicapai pada usia 30-34 tahun dan rata-rata kehilangan massa tulang pasca menopause adalah 1,4% per tahun. Penelitian yang dilakukan di klinik Reumatologi RSCM mendapatkan faktor resiko osteoporosis yang meliputi usia, lamanya menopause dan kadar estrogen yang rendah, sedangkan faktor proteksinya adalah kadar estrogen yang tinggi, riwayat barat badan lebih atau obesitas dan latihan yang teratur.

3.      Etiologi
Ada 2 penyebab utama osteoporosis, yaitu pembentukan massa puncak tulang yang kurang baik selama masa pertumbuhan dan meningkatnya pengurangan massa tulang setelah menopause. Massa tulang meningkat secara konstan dan mencapai puncak sampai usia 40 tahun, pada wanita lebih muda sekitar 30-35 tahun. Walaupun demikian tulang yang hidup tidak pernah beristirahat dan akan selalu mengadakan remodelling dan memperbaharui cadangan mineralnya sepanjang garis beban mekanik. Faktor pengatur formasi dan resorpsi tulang dilaksanakan melalui 2 proses yang selalu berada dalam keadaan seimbang dan disebut coupling. Proses coupling ini memungkinkan aktivitas formasi tulang sebanding dengan aktivitas resorpsi tulang. Proses ini berlangsung 12 minggu pada orang muda dan 16-20 minggu pada usia menengah atau lanjut. Remodelling rate adalah 2-10% massa skelet per tahun.
Proses remodelling ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor lokal yang menyebabkan terjadinya satu rangkaian kejadian pada konsep Activation – Resorption – Formation (ARF). Proses ini dipengaruhi oleh protein mitogenik yang berasal dari tulang yang merangsang preosteoblas supaya membelah membelah menjadi osteoblas akibat adanya aktivitas resorpsi oleh osteoklas. Faktor lain yang mempengaruhi proses remodelling adalah faktor hormonal. Proses remodelling akan ditingkatkan oleh hormon paratiroid, hormon pertumbuhan dan 1,25 (OH)2 vitamin D. Sedang yang menghambat proses remodelling adalah kalsitonin, estrogen dan glukokortikoid. Proses-proses yang mengganggu remodelling tulang inilah yang menyebabkan osteoporosis.
Selain gangguan pada proses remodelling tulang faktor lainnya adalah pengaturan metabolisme kalsium dan fosfat. Walaupun terdapat variasi asupan kalsium yang besar, tubuh tetap memelihara konsentrasi kalsium serum pada kadar yang tetap. Pengaturan homeostasis kalsium serum dikontrol oleh organ tulang, ginjal dan usus melalui pengaturan paratiroid hormon (PTH), hormon kalsitonin, kalsitriol (1,25(OH)2 vitamin D) dan penurunan fosfat serum. Faktor lain yang berperan adalah hormon tiroid, glukokortikoid dan insulin, vitamin C dan inhibitor mineralisasi tulang (pirofosfat dan pH darah). Pertukaran kalsium sebesar 1.000 mg/harinya antara tulang dan cairan ekstraseluler dapat bersifat kinetik melalui fase formasi dan resorpsi tulang yang lambat. Absorpsi kalsium dari gastrointestinal yang efisien tergantung pada asupan kalsium harian, status vitamin D dan umur. Didalam darah absorpsi tergantung kadar protein tubuh, yaitu albumin, karena 50% kalsium yang diserap oleh tubuh terikat oleh albumin, 40% dalam bentuk kompleks sitrat dan 10% terikat fosfat.

4.      Faktor Resiko Osteoporosis
a.       Usia
Tiap peningkatan 1 dekade, resiko meningkat 1,4-1,8
b.      Genetik
1)      Etnis (kaukasia dan oriental > kulit hitam dan polinesia)
2)      Seks (wanita > pria)
3)      Riwayat keluarga
c.       Lingkungan, dan lainnya
1)      Defisiensi kalsium
2)      Aktivitas fisik kurang
3)      Obat-obatan (kortikosteroid, anti konvulsan, heparin, siklosporin)
4)      Merokok, alkohol
5)      Resiko terjatuh yang meningkat (gangguan keseimbangan, licin, gangguan penglihatan)
6)      Hormonal dan penyakit kronik
a)         Defisiensi estrogen, androgen
b)        Tirotoksikosis, hiperparatiroidisme primer, hiperkortisolisme
c)         Penyakit kronik (sirosis hepatis, gangguan ginjal, gastrektomi)
d.      Sifat fisik tulang
1)      Densitas (massa)
2)      Ukuran dan geometri
3)      Mikroarsitektur
4)      Komposisi
Selain itu ada juga faktor resiko faktur panggul yaitu,:
a.       Penurunan respons protektif
Kelainan neuromuskular
Gangguan penglihatan
Gangguan keseimbangan
b.      Peningkatan fragilitas tulang
Densitas massa tulang rendah
Hiperparatiroidisme
c.       Gangguan penyediaan energi
Malabsorpsi

5.       Klasifikasi Osteoporosis
Dalam terapi hal yang perlu diperhatikan adalah mengenali klasifikasi osteoporosis dari penderita. Osteoporosis dibagi 2 , yaitu :
a.       Osteoporosis primer
Osteoporosis primer berhubungan dengan kelainan pada tulang, yang menyebabkan peningkatan proses resorpsi di tulang trabekula sehingga meningkatkan resiko fraktur vertebra dan Colles. Pada usia dekade awal pasca menopause, wanita lebih sering terkena daripada pria dengan perbandingan 6-8: 1 pada usia rata-rata 53-57 tahun.
b.      Osteoporosis sekunder
Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit atau sebab lain di luar tulang.
c.       Osteoporosis idiopatik
Osteoporosis idiopatik terjadi pada laki-laki yang lebih muda dan pemuda pra menopause dengan faktor etiologik yang tidak diketahui.

6.      Patogenesis
Pembentukan ulang tulang adalah suatu proses yang terus menerus. Pada osteoporosis, massa tulang berkurang, yang menunjukkan bahwa laju resorpsi tulang pasti melebihi laju pembentukan tulang. Pembentukan tulang lebih banyak terjadi pada korteks
Proses Remodelling Tulang dan Homeostasis Kalsium
Kerangka tubuh manusia merupakan struktur tulang yang terdiri dari substansi organik (30%) dan substansi mineral yang paling banyak terdiri dari kristal hidroksiapatit (95%) serta sejumlah mineral lainnya (5%) seperti Mg, Na, K, F, Cl, Sr dan Pb. Substansi organik terdiri dari sel tulang (2%) seperti osteoblas, osteosit dan osteoklas dan matriks tulang (98%) terdiri dari kolagen tipe I (95%) dan protein nonkolagen (5%) seperti osteokalsin, osteonektin, proteoglikan tulang, protein morfogenik tulang, proteolipid tulang dan fosfoprotein tulang.
Tanpa matriks tulang yang berfungsi sebagai perancah, proses mineralisasi tulang tidak mungkin dapat berlangsung. Matriks tulang merupakan makromolekul yang sangat bersifat anionik dan berperan penting dalam proses kalsifikasi dan fiksasi kristal hidroksi apatit pada serabut kolagen. Matriks tulang tersusun sepanjang garis dan beban mekanik sesuai dengan hukum Wolf, yaitu setiap perubahan fungsi tulang akan diikuti oleh perubahan tertentu yang menetap pada arsitektur internal dan penyesuaian eksternal sesuai dengan hukum matematika. Dengan kata lain, hukum Wolf dapat diartikan sebagai “bentuk akan selalu mengikuti fungsi”.
Patogenesis Osteoporosis primer
Setelah menopause maka resorpsi tulang akan meningkat, terutama pada dekade awal setelah menopause, sehingga insidens fraktur, terutama fraktur vertebra dan radius distal meningkat. Estrogen juga berperan menurunkan produksi berbagai sitokin oleh bone marrow stromal cells dan sel-sel mononuklear, seperti IL-1, IL-6 dan TNF-α yang berperan meningkatkan kerja osteoklas, dengan demikian penurunan kadar estrogen akibat menopause akan meningkatkan produksi berbagai sitokin tersebut sehingga aktivitas osteoklas meningkat.
Untuk mengatasi keseimbangan negatif kalsium akibat menopause, maka kadar PTH akan meningkat pada wanita menopause, sehingga osteoporosis akan semakin berat. Pada menopause, kadangkala didapatkan peningkatan kadar kalsium serum, dan hal ini disebabkan oleh menurunnya volume plasma, meningkatnya kadar albumin dan bikarbonat, sehingga meningkatkan kadar kalsium yang terikat albumin dan juga kadar kalsium dalam bentuk garam kompleks. Peningkatan bikarbonat pada menopause terjadi akibat penurunan rangsang respirasi, sehingga terjadi relatif asidosis respiratorik.
Patogenesis Osteoporosis Sekunder
Selama hidupnya seorang wanita akan kehilangan tulang spinalnya sebesar 42% dan kehilangan tulang femurnya sebesar 58%. Pada dekade ke-8 dan 9 kehidupannya, terjadi ketidakseimbangan remodeling tulang, dimana resorpsi tulang meningkat, sedangkan formasi tulang tidak berubah atau menurun. Hal ini akan menyebabkan kehilangan massa tulang, perubahan mikroarsitektur tulang dan peningkatan resiko fraktur.
Defisiensi kalsium dan vitamin D juga sering didapatkan pada orang tua. Hal ini disebabkan oleh asupan kalsium dan vitamin D yang kurang, anoreksia, malabsorpsi dan paparan sinar matahari yang rendah. Defisiensi vitamin K juga akan menyebabkan osteoporosis karena akan meningkatkan karboksilasi protein tulang misalnya osteokalsin. Penurunan kadar estradiol dibawah 40 pMol/L pada laki-laki akan menyebabkan osteoporosis, karena laki-laki tidak pernah mengalami menopause (penurunan kadar estrogen yang mendadak), maka kehilangan massa tulang yang besar seperti pada wanita tidak pernah terjadi. Dengan bertambahnya usia, kadar testosteron pada laki-laki akan menurun sedangkan kadar Sex Hormone Binding Globulin (SHBG) akan meningkat. Peningkatan SHBG akan meningkatkan pengikatan estrogen dan testosteron membentuk kompleks yang inaktif.
Faktor lain yang juga ikut berperan terhadap kehilangan massa tulang pada orang tua adalah faktor genetik dan lingkungan (merokok, alkohol, obat-obatan, imobilisasi lama). Resiko fraktur yang juga harus diperhatikan adalah resiko terjatuh yang lebih tinggi pada orang tua dibandingkan orang yang lebih muda. Hal ini berhubungan dengan penurunan kekuatan otot, gangguan keseimbangan dan stabilitas postural, gangguan penglihatan, lantai yang licin atau tidak rata, dll.
7.      Gambaran Klinis
Osteoporosis dapat berjalan lambat selama beberapa dekade, hal ini disebabkan karena osteoporosis tidak menyebabkan gejala fraktur tulang. Beberapa fraktur osteoporosis dapat terdeteksi hingga beberapa tahun kemudian. Tanda klinis utama dari osteoporosis adalah fraktur pada vertebra, pergelangan tangan, pinggul, humerus, dan tibia. Gejala yang paling lazim dari fraktur korpus vertebra adalah nyeri pada punggung dan deformitas pada tulang belakang. Nyeri biasanya terjadi akibat kolaps vertebra terutama pada daerah dorsal atau lumbal. Secara khas awalnya akut dan sering menyebar kesekitar pinggang hingga kedalam perut. Nyeri dapat meningkat walaupun dengan sedikit gerakan misalnya berbalik ditempat tidur. Istirahat ditempat tidaur dapat meringankan nyeri untuk sementara, tetapi akan berulang dengan jangka waktu yang bervariasi. Serangan nyeri akut juga dapat disertai oleh distensi perut dan ileus
Seorang dokter harus waspada terhadap kemungkinan osteoporosis bila didapatkan :
a.       Patah tulang akibat trauma yang ringan.
b.      Tubuh makin pendek, kifosis dorsal bertambah, nyeri tulang.
c.       Gangguan otot (kaku dan lemah)
d.      Secara kebetulan ditemukan gambaran radiologik yang khas.
8.      Diagnosis
Diagnosis osteoporosis umumnya secara klinis sulit dinilai, karena tidak ada rasa nyeri pada tulang saat osteoporosis terjadi walau osteoporosis lanjut. Khususnya pada wanita-wanita menopause dan pasca menopause, rasa nyeri di daerah tulang dan sendi dihubungkan dengan adanya nyeri akibat defisiensi estrogen. Masalah rasa nyeri jaringan lunak (wallaca tahun1981) yang menyatakan rasa nyeri timbul setelah bekerja, memakai baju, pekerjaan rumah tangga, taman dll. Jadi secara anamnesa mendiagnosis osteoporosis hanya dari tanda sekunder yang menunjang terjadinya osteoporosis seperti :
a.       Tinggi badan yang makin menurun.
b.      Obat-obatan yang diminum.
c.       Penyakit-penyakit yang diderita selama masa reproduksi, klimakterium.
d.      Jumlah kehamilan dan menyusui.
e.       Bagaimana keadaan haid selama masa reproduksi.
f.       Apakah sering beraktivitas di luar rumah , sering mendapat paparan matahari cukup.
g.      Apakah sering minum susu? Asupan kalsium lainnya.
h.      Apakah sering merokok, minum alkohol?

Pemeriksaan Fisik
Tinggi badan dan berat badan harus diukur pada setiap penderita osteoporosis. Demikian juga gaya berjalan penderita osteoporosis, deformitas tulang, nyeri spinal. Penderita dengan osteoporosis sering menunjukkan kifosis dorsal atau gibbus dan penurunan tinggi badan.

Pemeriksaan Radiologis
Gambaran radiologik yang khas pada osteoporosis adalah penipisan korteks dan daerah trabekuler yang lebih lusen. Hal ini akan tampak pada tulang-tulang vertebra yang memberikan gambaran picture-frame vertebra.

Pemeriksaan Densitas Massa tulang (Densitometri)
Densitas massa tulang berhubungan dengan kekuatan tulang dan resiko fraktur . untuk menilai hasil pemeriksaan Densitometri tulang, digunakan kriteria kelompok kerja WHO, yaitu:
a.       Normal bila densitas massa tulang di atas -1 SD rata-rata nilai densitas massa tulang orang dewasa muda (T-score)
b.      Osteopenia bila densitas massa tulang diantara -1 SD dan -2,5 SD dari T-score.
c.       Osteoporosis bila densitas massa tulang -2,5 SD T-score atau kurang.
d.      Osteoporosis berat yaitu osteoporosis yang disertai adanya fraktur.
9.       Penatalaksanaan
Terapi pada osteoporosis harus mempertimbangkan 2 hal, yaitu terapi pencegahan yang pada umumnya bertujuan untuk menghambat hilangnya massa tulang. Dengan cara yaitu memperhatikan faktor makanan, latihan fisik (senam pencegahan osteoporosis), pola hidup yang aktif dan paparan sinar ultra violet. Selain itu juga menghindari obat-obatan dan jenis makanan yang merupakan faktor resiko osteoporosis seperti alkohol, kafein, diuretika, sedatif, kortikosteroid.
Selain pencegahan, tujuan terapi osteoporosis adalah meningkatkan massa tulang dengan melakukan pemberian obat-obatan antara lain hormon pengganti (estrogen dan progesterone dosis rendah). Kalsitrol, kalsitonin, bifosfat, raloxifene, dan nutrisi seperti kalsium serta senam beban.
Pembedahan pada pasien osteoporosis dilakukan bila terjadi fraktur, terutama bila terjadi fraktur panggul.



Friday, 6 January 2012

Menopause

a.   Pengertian
Menopause berasal dari kata Yunani yaitu “meno” (bulan) dan “pause” (penghentian). Websters Ninth new Collegiate Dictionary mendefinisikan menopause sebagai periode berhentinya haid secara alamiah yang biasanya terjadi pada usia 45-50 tahun (Kasdu, 2002). Menurut Ganong (1999) cit Fitriani (2008) menopause adalah masa ketika ovarium manusia menjadi tidak responsif terhadap gonadotropin seiring dengan pertambahan usia dan fungsinya menurun, sehingga daur seksualnya menghilang. Haid biasanya pada seorang wanita akan menjadi tidak teratur dan berhenti antara usia 45-55 tahun (Siswanto, 2001).
Menurut Suherman (1996) cit Fitriani (2008) menopause adalah suatu periode ketika seorang wanita tidak lagi mengalami haid (umumnya setelah 12 bulan tanpa haid), hal ini menunjukkan bahwa yang bersangkutan tidak dapat lagi hamil atau tidak lagi produktif.
Menopause adalah haid terakhir, atau saat terjadinya haid terakhir. Diagnosis dibuat setelah terdapat amenorhea sekurang-kurangnya satu tahun. Berhentinya haid bisa didahului oleh siklus haid yang lebih panjang, dengan perdarahan yang berkurang. Umur waktu terjadinya menopause dipengaruhi oleh keturunan, kesehatan umum dan pola kehidupan. Ada kecenderungan dewasa ini untuk terjadinya menopause pada umur yang lebih tua.
          Terjadinya menopause ada hubungannya dengan menarche. Semakin dini menarche terjadi, maka semakin lambat menopause timbul. Pada abad ini tampak bahwa menarche makin dini timbul dan menopause makin lambat terjadi, sehingga masa reproduksi makin panjang. Walaupun demikian di negara-negara maju menopause tidak begeser lagi keumur yang muda, tampaknya batas maksimal telah tercapai. Menopause yang artifisial karena operasi atau radiasi umumnya menimbulkan keluhan yang banyak dibandingkan dengan menopause alamiah (Pieter, dkk,2010)
Menurut Kasdu (2002) faktor-faktor yang mempengaruhi kapan wanita mengalami menopause antara lain adalah :
1)  Usia haid pertama kali (menarche)
Semakin muda usia seorang wanita mengalami haid pertama kalinya, semakin lama ia memasuki usia menopause.
2)  Faktor psikis
Keadaan wanita yang tidak menikah dan bekerja mempengaruhi perkembangan psikisnya, mereka akan mengalami masa menopause lebih muda dibandingkan mereka yang menikah dan tidak bekerja/bekerja atau tidak menikah dan tidak bekerja.


3)  Jumlah anak
Semakin sering seorang wanita melahirkan, maka semakin tua atau lama mereka memasuki masa menopause.
4)  Usia melahirkan
Semakin tua seorang waanita melahirkan anak, maka semakin tua ia mulai  memasuki usia menopause. Hal ini karena kehamilan dan persalinan memperlambat sistem kerja organ reproduksi, bahkan memperlambat proses penuaan tubuh.
5)  Pemakaian kontrasepsi
Pemakaian kontrasepsi khususnya kontrasepsi jenis hormonal akan memperlama datangnya masa menopause. Hal ini dikarenakan cara kerja kontrasepsi hormonal yang menekan fungsi indung telur.
6)  Merokok
Wanita perokok diduga akan lebih cepat memasuki masa menopause.
Sarwono (2003) menyebutkan faktor-faktor lain yang mempengaruhi menopause antara lain :
1)  Faktor genetik
Wanita di Eropa tidak sama masa menopausenya dengan wanita di Asia.
2)  Siklus haid
Wanita dengan siklus haid pendek memasuki menopause lebih awal jika dibandingkan dengan wanita yang memiliki siklus haid normal.


3)  Wanita nulipara
Wanita nulipara lebih cepat memasuki masa menopause dibandingkan dengan wanita primipara.
4)  Status gizi
Wanita yang gizinya terpenuhi akan lebih lambat mengalami menopause.
5)  Wanita vegetarian
Wanita yang hanya makan sayur-sayuran (vegetarian) akan mengalami menopause lebih awal jika dibandingkan dengan wanita yang tidak vegetarian.
6)  Sosio-ekonomi
Banyak wanita dengan sosio-ekonomi rendah lebih awal mengalami menopause dibandingkan wanita dengan sosio-ekonomi tinggi.
b.   Tahapan Menopause
Menurut Kasdu (2002), siklus kehidupan seorang wanita akan mengalami fase-fase perkembangan, terutama fase yang berkaitan dengan fungsi organ reproduksi wanita. Fase-fase tersebut dibagi menjadi tiga tahapan yaitu :
1)  Masa sebelum menstruasi
Masa sebelum haid yang berlangsung sejak bayi hingga masa prapubertas (sekitar usia 8-12 tahun) dan masa pubertas (usia 12-13 tahun). Pada masa ini wanita mulai mengalami masa yang disebut fase reproduksi.


2)  Fase reproduksi
Fase reproduksi atau periode fertile (subur) berlangsung sampai usia sekitar 45 tahunan dan pada masa inilah organ reproduksi wanita akan mengalami fungsi yang sebenarnya, yaitu hamil dan melahirkan.
3)  Masa setelah menstruasi
Masa ini adalah fase terakhir dalam kehidupan seorang wanita, dimana masa reproduksinya berakhir yang disebut masa klimakterium. Klimakterium adalah masa peralihan yang dilalui seorang wanita dari periode reproduktif ke periode non reproduktif. Periode ini dapat berlangsung antara 5-10 tahun sekitar menopause. Menurut Kasdu (2002) dan Pakasi (2000), masa klimakterium berlangsung secara bertahap yaitu :
a)  Masa premenopause
Masa sebelum berlangsungnya perimenopause, yaitu sejak fungsi reproduksi mulai menurun sampai timbulnya keluhan atau tanda-tanda menopause. Masa ini ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur, dengan perdarahan haid yang memanjang dan jumlah darah haid yang relatif banyak dan kadang-kadang disertai nyeri haid (disminorea). Terjadi pada masa 4-5 tahun sebelum menopause.
b)  Masa perimenopause
Periode dengan keluhan memuncak, rentangan 1-2 tahun sebelum dan 1-2 tahun sesudah menopause. Masa wanita mengalami akhir dari datangnya haid sampai berhenti sama sekali.
c)  Masa menopause
Masa menopause dikatakan sebagai haid alami yang terakhir. Diagnosis  menopause jika seorang wanita tidak haid selama 12 bulan.
d)  Masa postmenopause
Masa setelah perimenopause sampai senilis.
c.   Perubahan Selama Menopause
Kasdu (2002) membagi perubahan yang terjadi selama menopause menjadi empat, yaitu :
1)  Perubahan organ reproduksi
Akibat berhentinya haid, berbagai organ reproduksi akan mengalami berbagai perubahan. Perubahan itu antara lain :
a)  Rahim (uterus)
Rahim mengalami atropi (keadaan kemunduran gizi jaringan), panjangnya menyusut, dan dindingnya menipis. Jaringan miometrium (otot rahim) sedikit dan lebih banyak jaringan fibrotik. Serviks (leher rahim) menyusut bahkan lama-lama akan merata dengan dinding vagina.
b)  Saluran telur
Lipatan saluran menjadi lebih pendek, menipis dan mengerut serta rambut getar (fimbria) menghilang.
c)  Indung telur
Dengan menurunnya produksi indung telur maka terjadi juga penurunan hormon yaitu estrogen, progesteron, dan androgen. Akibatnya, ukuran indung telur akan mengecil dan permukaannya akan menjadi keriput, terjadi sklerosis (penebalan) pada sistem pembuluh darah indung telur, siklus menjadi anovulasi (tidak ada ovulasi), terjadi perubahan endometrium akibat produksi hormon estrogen yang menurun.
d)  Serviks
Serviks mengalami pengerutan dan pemendekan.
e)  Vagina
Vagina mengalami konstraktur (melemahnya otot jaringan), panjang dan lebar vagina juga mengalami pengecilan. Selaput lendir akan menipis dan tidak lagi elastis.
f)   Vulva
Jaringan pada vulva akan menipis akibat berkurang dan hilangnya jaringan lemak serta jaringan elastik. Kulinya menipis dan pembuluh darah berkurang sehingga menyebabkan pengerutan lipatan vulva.
2)  Perubahan hormon
Pada kondisi menopause, reaksi yang nyata adalah perubahan hormon estrogen yang berkurang. Meskipun perubahan juga terjadi pada hormon lainnya seperti progesteron tetapi perubahan yang mempengaruhi langsung kondisi fisik tubuh maupun organ reproduksi dan psikis adalah akibat dari perubahan hormon estrogen. Beberapa perubahan yang terjadi pada tubuh akibat kekurangan hormon estrogen sebagai berikut :


a)  Gejala vasomotorik
Gejala vasomotorik adalah gejala defisiensi estrogen primer yang disebabkan ketidakseimbangan otonom sentral dari vasomotor. Gejala ini antara lain berupa gejolak panas (hot flushes), vertigo, keringat banyak, perasaan lemes, dan perasaan jantung berdebar-debar.
b)  Gejala konstitusional
Gejala konstitusional adalah gejala sekunder yang terjadi sebagai rangsangan tidak langsung dari penurunan hormon estrogen. Gejala ini berupa mudah tersinggung, sakit kepala (migrain), nyeri otot dan nyeri pinggang.
c)  Gejala psikiastenik dan neurotik
Gejala ini sebagai gejala reaktif pada penderita psikiastenik dan neurotik. Gejala-gejala ini berupa depresi, kelelahan somatik, susah tidur, rasa kuatir, rasa takut berlebihan, dan gangguan libido.
3)  Perubahan fisik
Akibat perubahan organ reproduksi maupun hormon tubuh pada saat menopause mempengaruhi berbagai keadaan fisik tubuh seorang wanita. Keadaan ini berupa keluhan-keluhan ketidaknyamanan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari. Keluhannya berupa hot flushes (perasaan panas), keringat berlebihan, vagina terasa kering sehingga menimbulkan rasa sakit pada saat berhubungan intim, tidak dapat menahan air kencing, hilangnya jaringan kolagen sehingga menyebabkan kulit kering dan keriput serta rambut menjadi rontok, penambahan berat badan, mata terasa kering dan gatal, nyeri tulang dan sendi.
4)  Perubahan emosi
Menurut Kasdu (2002), perubahan psikis pada wanita menopause sangat tergantung pada masing-masing individu. Pengaruh ini sangat tergantung pada pandangan masing-masing wanita terhadap menopause, termasuk pengetahuannya. Pengetahuan yang cukup akan membantu mereka memahami dan mempersiapkan dirinya menjalani masa menopause dengan baik.
Perubahan emosi yang sering muncul pada masa menopause adalah keadaan emosi yang kurang stabil. Namun pada umumnya, seorang wanita akan mengalami ketidakstabilan emosi ini tidak akan berkepanjangan seiring dengan kekhawatiran yang mungkin akan terjadi pada tubuhnya dengan berakhirnya masa haid. Dan kestabilan emosi ini akan diperoleh kembali setelah mereka mendapatkan informasi yang baik tentang menopause.
Selain perubahan emosi, perubahan psikis akan terjadi juga. Gejala psikis yang muncul antara lain mudah lupa, kurang dapat memusatkan perhatiannya, kecemasan, mudah marah dan depresi.
d.   Gangguan Kesehatan Pada Masa Menopause
Ketika usia semakin meningkat, timbulnya berbagai gangguan tubuh semakin meningkat pula. Ada beberapa penyakit yang timbul seiring dengan hilangnya atau melemahnya organ pada jangka panjang setelah masa menopause. Diantaranya yang sering muncul adalah gangguan osteoporosis dan jantung koroner. Akibat dan efek samping yang terjadi dari perubahan organ reproduksi pada masa menopause, antara lain gairah seksual menurun dan gangguan tubuh lainnya, seperti tekanan darah tinggi dan diabetes.


Aning Septin Roswati
Menopause , Mekanisme koping , masa tua